TIP#09: Klik ikon untuk merubah tampilan teks alkitab dan catatan hanya seukuran layar atau memanjang. LENGKONG AYOBANDUNG.COM - Apakah puasa Asyura 10 Muharram merupakan tradisi orang yahudi? Simak hadits dan sabda rasulullah. Penting bagi seluruh umat Islam tahu hadits puasa Asyura.Hadits ini dapat menjadi dasar hukum amalan puasa Asyura.. Ibadah puasa Asyura adalah puasa sunnah yang dikerjakan pada tanggal 10 Muharram. NabiSAW melarang umatnya untuk mengambil harta yang bukan hak. Yesayabernubuat tentang suatu waktu ketika pemerintahan Allah akan ditegakkan di seluruh bumi (bd. Mi 4:1-3). Semua kejahatan, ketidakadilan, dan pemberontakan menentang Allah dan hukum-Nya akan ditumpas dan kebenaran akan memerintah (bd. nabi PL, dan rasul PB (lihat cat. --> Ef 2:20). [atau ref. Ef 2:20] Semua orang, baik yang hilang Sabdanabi hukum jual beli#sabdanabi #haditsnabi #JualbeliTag#Sabdanabitentangjualbeli#sabdanabitentangakhirzaman#sabdanabitentangumurdunia#sabdanabitentanga NabiMuhammad; Muslimah; Kisah; Fatwa; Mozaik; Kajian Alquran; Doa; hadist; INTERNASIONAL Timur tengah; Palestina; Eropa; Amerika; Asia; Afrika; Jejak Waktu; Australia Plus; DW; EKONOMI Digital; Syariah; Bisnis; Finansial; Migas; pertanian; Global; Energi; REPUBLIKBOLA Klasemen; Bola Nasional; Liga Inggris; Liga Spanyol KhVmeQ. Allah SWT telah menetapkan keberkahan-Nya atas Palestina. Sebagaimana diketahui, negeri atau kota lain yang juga diberkahi Allah SWT adalah Makkah dan Madinah. Ada pula yang menambahkan dengan Syam Suriah sekarang dan Mesir. Menurut para ulama, penyebutan Masjid Al Aqsa dan daerah sekitarnya di sekelilingnya itu sebagai negeri yang diberkahi, karena di daerah tersebut diutus oleh Allah sejumlah rasul-Nya untuk berdakwah di negeri dan sebagian menetap tersebut. Di antaranya, Nabi Ibrahim, Ishak, Luth, Ya’kub, Musa, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, hingga Isa AS. Karena itu, keberadaan Palestina sebagai suatu negeri yang diberkahi, tak perlu dibantah lagi. Sebab, dalam beberapa keterangan ayat Alquran, Allah SWT telah menyebutkan berkali-kali akan kemuliaan dan keberkahan Palestina tersebut. Di antaranya, surat Al A’raaf [7] 137, Al Israa` [17] 1, Al Anbiyaa` [21] 71 dan 81. ’Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.’’ QS Al Anbiyaa` [21] 71. ’Dan telah Kami tundukkan untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.’’ QS Al Anbiyaa` [21] 81. Penuh berkah Ibnu Abbas menyebutkan, yang dimaksud dengan Kami berkahi sekelilingnya’ dalam surat Al Israa [17] ayat 1 itu adalah bumi Palestina dan Urdun Yordania. Abul Qasim As Suhaily menyebutkan, bumi yang diberkahi tersebut adalah Syam yang meliputi Yordania, Suriah, Lebanon, dan Palestina. Imam Asy-Syaukany menjelaskan bahwa negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya adalah negeri Syam Yordania, Suriah, Lebanon, Palestina dan Mesir. Dalam surat Saba [34] ayat 18, dijelaskan; ’Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkah kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu jarak-jarak perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.’’ QS Saba [34] 18. Para ahli tafsir mufassirin menjelaskan, yang dimaksud ke negeri yang Kami telah memberkatinya’ yakni negeri Syam Yordania, Suriah, Lebanon, Palestina daerah Kerajaan Nabi Sulaiman AS. Sedangkan maksud beberapa negeri yang berdekatan’ Adna al-Ardli adalah daerah-daerah antara Syam dan Yaman. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW pernah berdoa untuk keberkahan negeri Syam Yordania, Syria, Libanon, Palestina dan negeri Yaman. ’Ya Allah, berikanlah keberkahan bagi kami, negeri Syam dan Yaman.’’ Thursina Menurut sebagian ulama, hal lain yang menyebabkan Palestina disebut sebagai negeri yang diberkahi, karena disinilah Allah menyelamatkan Nabi Musa dari kejaran Firaun setelah menyeberangi Laut Merah, dan saat ia menerima wahyu dari Allah SWT. ’Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya.’’QS Al A’raaf [7] 137. ’Maka, tatkala Musa sampai ke tempat api, diserulah Dia arah pinggir lembah yang sebelah kanan-nya pada tempat yang diberkahi dari sebatang pohon kayu. Al Qashash [28] 30. Keterangan diperkuat lagi dengan ayat 6 surah An- Nazi`at [79] dan surat Al Maidah [5] ayat 21. ’Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci, yaitu Lembah Thuwa.’’ An-Nazi`at [79] 6. ’Hai kaumku, masuklah ke tanah Suci Palestina yang telah ditentukan Allah bagimu.’’ Al Maidah [5] 21. Lembah suci itu, menurut Sami bin Abdullah al- Maghluts, dalam bukunya Athlas Tarikh Al-Anbiyaa wa ar-Rusul, hanya ada dua, yaitu Makkah dan Palestina. Bahkan, ketika mengomentari surat At Tiin [95] 1-3, para ulama banyak yang menyebutkan, sesungguhnya bukit Thursina, tempat Musa menerima wahyu, adalah di lembah suci yang ada di Palestina. Menurut Syekh Shalahuddin Ibrahim Abu Arafah, seorang ulama asal Palestina, bukit Thursina adalah tempat yang diberkahi. Dan, tempat yang diberkahi itu adalah Palestina sebagaimana surat Al-Isra` [17] ayat 1 yang menceritakan peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sami menambahkan, yang dimaksud dalam surat At Tiin [95] itu adalah Thursina, bukit yang ada di Baitul Maqdis dan al-Balad al-Amin adalah Makkah. Berikut argumentasinya. Allah berfirman, Dan, pohon kayu yang keluar dari Thursina pohon zaitun yang menghasilkan minyak dan menjadi makanan bagi orang-orang yang makan. Al- Mu’minun [23] 20. Ayat ini, kata Sami, mengikat dan menghimpun dengan kuat antara Thursina’ dan hasil bumi serta tumbuh-tumbuhan penghasil minyak bagi orang yang makan. Karena itu, ia membantah bila Sinai Mesir sebagai Thursina yang selama ini banyak dipercayai masyarakat, termasuk umat Islam. Ia menyatakan, di Sinai Mesir tidak ada pohon zaitun yang mampu menghasilkan buah, apalagi mengeluarkan minyak. Menurut Sami, ayat 20 surah Al-Mu’minun [23] dan ayat 1-3 surah At-Tiin itu justru merujuk pada tanah suci di Palestina. Di Palestina, jelas dia, terdapat banyak pohon zaitun yang terus berproduksi di sepanjang tahun sehingga penduduk di sekitar Baitul Maqdis menamakannya dengan Bukit Zaitun dan Allah SWT telah berseru kepada Musa di tempat yang diberkahi di sisi bukit. sumber Harian RepublikaBACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini INFO NASIONAL - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia MPR RI Dr. H. M Hidayat Nur Wahid, MA mengingatkan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diinisiasi oleh Sultan Sholahudin al-Ayyubi, memiliki kaitan yang sangat erat dengan perjuangan pembebasan Palestina dan Masjid Al Aqsha. Oleh karenanya, menjadi sangat wajar dalam masa peringatan Maulid Nabi, saat MPRRI menggelar Konferensi Internasional Pimpinan MPR, Majlis Syura dan Lembaga Parlemen sejenis dari parlemen-parlemen Negara OKI, di Bandung, 24-26 Oktober 2022, bila spirit membela Palestina menjadi salah satu materi yang dikedepankan. Soal Palestina itu disampaikan oleh berbagai delegasi dari Parlemen Turki, Irak, Maroko, Iran, Aljazair, Saudi Arabia, Bahrain, Pakistan, Palestina dan Indonesia, sehingga menjadi salah satu butir yang disepakati menjadi bagian dari keputusan forum yg dituangkan dalam Deklarasi Bandung. HNW -sapaan akrabnya- menjelaskan hal tersebut saat menyampaikan sambutan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh DPD PKS Jakarta Selatan, di Jakarta, Sabtu, 29 Oktober 2022. Dalam peringatan tersebut, selain dihadiri pimpinan PKS di Jakarta Selatan, juga hadir para Habaib, Kiyai, Ustadz, dan ustadzah dan Tokoh masyarakat se-Jakarta menuturkan gagasan awal peringatan Maulid adalah antara lain mencintai RasuluLlah dan meneladani suksesnya sebagai teladan pemersatu umat yang memenangkan perjuangan umat, yang kemudian dikorelasikan dengan perjuangan untuk membebaskan Masjid Al Aqsha Palestina."Sejarah Maulid Nabi ini sangat terkait dengan Palestina. Dan kini semakin relevan memperhatikan perkembangan penjajahan Israel terhadap Palestina yang semakin brutal dan meluas serta tidak mengindahkan resolusi-resolusi PBB,” ujarnya. Dalam konteks Indonesia dan dunia internasional, lanjutnya, spirit ini sudah ada sejak Presiden pertama RI Ir. Soekarno. Sejak awal sikap Bung Karno sangat jelas mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina, seperti menolak kehadiran Israel dalam Konferensi Asia dan Afrika dengan mengundang pimpinan Palestina yaitu AsSayyid alAmin alHusaini, Mufti Jerusalem dan Imam Masjid alaqsha.“Padahal saat itu Israel sangat berharap untuk diundang, tetapi justru Bung Karno mengundang mufti dari Palestina,” ucapnya. HNW melanjutkan bahkan dalam dunia olahraga, Bung Karno juga tetap menegaskan sikapnya, mendukung Palestina dan menolak penjajahan Israel. Misalnya, ketika Indonesia yang hampir masuk ke Piala Dunia 1958 menolak bertanding melawan Israel.“Ini bukan hanya sekadar masalah olahraga, tetapi juga masalah konsistensi terhadap Pembukaan UUD 45 bahwa penjajahan harus diakhiri dan ditolak, dan perjuangan kemerdekaan Palestina harus didukung," terhadap kemerdekaan Palestina itu, lanjut HNW, juga mewujud dengan berdirinya OKI dan Persatuan Parlemen negara-negara OKI. Indonesia pun aktif sebagai anggota di OKI maupun PUIC Persatuan Parlemen Negara-Negara anggota OKI.Menurutnya, Indonesia terbukti konsisten dengan sikap itu, sehingga dengan terbuka Indonesia dan Presiden Jokowi menolak keras klaim sepihak Israel bahwa Jerusalem adalah ibukota Israel, sekalipun klaim itu didukung Amerika berhenti di situ, ujar dia, Presiden Jokowi dalam KTT Luar biasa OKI di Istambul, dengan lantang mengajak untuk bersatu membela Palestina merdeka dengan ibukotanya Yerusalem Timur. "Dukungan Presiden Jokowi terhadap perjuangan kemerdekaan Bangsa dan Negara Palestina, kembali disampaikan oleh Presiden Jokowi, saat menerima kunjungan kehormatan Perdana Menteri Palestina, jelang digelarnya Konferensi MPR se dunia gagasan MPRRI," ujarnya. Oleh karena itu, HNW yang ditunjuk sebagai Ketua Steering Committee penyelenggaraan Konferensi Internasional di Bandung itu menuturkan bahwa wajar bila spirit Bandung tempat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika tahun 1955, berbarengan dengan momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan berbagai perkembangan terkait perjuangan kemerdekaan Palestina, menyemangati berbagai delegasi pemimpin parlemen-parlemen dari Persatuan Parlemen-parlemen disepakati menjadi salah satu point dalam Deklarasi Bandung yang dibacakan oleh Ketua MPR RI, yang juga menandai pembentukan resmi Forum Majelis Syura se-Dunia yang diinisiasi oleh MPR RI.“Alhamdiulillah sejarah telah dibuat oleh MPR, yakni dengan terbentuknya Forum majelis syura atau lembaga sejenis bersama Persatuan Parlemen negara-negara OKI, dengan salah satu komitmennya mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina," ujarnya. HNW yang dipercaya Pimpinan MPR untuk juga Memimpin Persidangan termasuk Persidangan Panitia Perumus menyampaikan bahwa Forum yang diinisiasi MPR tersebut menyetujui dan memutuskan Deklarasi Bandung yang poin keduanya adalah dukungan terhadap perjuangan Bangsa Palestina."Ini sesuai dengan sikap Indonesia baik Pemerintah maupun Rakyatnya, selama ini," ucapnya. HNW memaparkan bahwa isi poin kedua Deklarasi Bandung itu adalah masalah Palestina tetap menjadi isu sentral Forum dan Umat Islam, hingga tercapainya kemerdekaan dan hak penentuan nasib sendiri untuk rakyat Palestina, serta berdirinya Negara Palestina merdeka dengan Yerusalem sebagai ibukotanya, sesuai kerangka hukum lanjut HNW, spirit persatuan dan sukses pembebasan tersebut yang antara lain perlu terus kita jaga ketika memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, sebagaimana salah satu tujuan utama diselenggarakan kegiatan Maulid, yakni meneladani Rasulullah SAW yang antara lain mengajarkan pentingnya persatuan dan kerjasama menegakkan keadilan, untuk membebaskan Umat Manusia dari segala bentuk kedzaliman dan penjajahan, termasuk yang terkait dengan Palestina.* Kota Yerusalem Foto Reuters/Ronen ZvulunYerusalem merupakan salah satu kota tertua di dunia. Menurut catatan milik Stewart Prowne yang berjudul Cities of the World Jerusalem & Bethlehem, Yerusalem sudah dihuni oleh Bangsa Kanaan sejak tahun 2500 SM. Sementara pemukiman pertama diperkirakan sudah ada sekitar 4000 tahun SM. Ada beberapa sumber yang menyebutkan bahwa Bangsa Kanaan merupakan keturunan Shem dan Eber, anak dari Nabi masa lalu hingga saat ini, Yerusalem berulang kali direbut, ditaklukan, dihancurkan dan dibangun kembali. Setiap jengkal tanahnya mampu bercerita dengan fasih tentang sekeping kenangan kesedihan, kebahagiaan, keimanan dan rentetan sejarah krisis kemanusiaan yang begitu bahasa ibrani, Yerusalem ditulis dengan kata Yerushalayim atau Yerushalaim yang berarti Warisan Perdamaian. Berbagai sumber juga menyebut kata Orshalem sebagai nama awal dari Yerusalem. Orshalem sendiri memiliki arti Kota berbagai kisah seputar asal muasal namanya, dapat disimpulkan bahwa kota ini merupakan sebuah wilayah yang dibangun di atas harapan akan terciptanya kedamaian dan tegaknya nilai-nilai kemanusiaan. Seharusnya Yerusalem menjadi simbol perdamaian bagi peradaban manusia di seluruh demikian, Yerusalem adalah sebuah paradoks. Di saat bersamaan, kota yang penuh keagungan itu disesaki oleh cinta dan dipenuhi oleh kebencian. Keunikan Yerusalem justru berasal dari sekat tipis yang memisahkan kedua ekspresi perasaan manusia Suci Tiga Agama SamawiMagnet Yerusalem terdapat pada arti spiritualnya. sejak dulu ia dipercaya sebagai kota suci tiga agama samawi, yaitu Islam, Kristen dan Yudaisme. Yerusalem dikultuskan oleh agama dan tradisi hingga sejarah dan teologi. Hampir di setiap sudut Kota Yerusalem dapat ditemui tempat-tempat suci dan rumah-rumah ibadah dari berbagai pemeluk umat Muslim, Yerusalem adalah uwla al qiblatayn wa thalith al haramayn yaitu awal mula kiblat sekaligus sebagai kota suci ketiga setelah Mekah dan Madinah. Di kota ini Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan Isra Mi’raj mulai dari Mekkah ke Jerusalem, lalu dilanjutkan ke Sidrat Al Muntaha. Perjalanan malam tersebut menjadi faktor yang memperkuat hubungan antara Mekkah dan Yerusalem sebagai kota suci bagi Umat Rashid Khalidi, seorang profesor Universitas Columbia menyebutkan khalifah kedua Umar bin Khattab menaklukkan Yerusalem dan merebut kembali Masjid Al-Aqsa pada tahun 638 M. Pasukan Islam masuk ke al-Quds di Jerusalem dan mengusir tentara Bizantium. Penduduk Yerusalem sepakat bahwa kota suci itu hendaknya diserahkan kepada Khalifah Umar bin Khattab. Di kala itu khalifah Islam tersebut mengeluarkan ikrar yang masyhur bagi di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab, Yerusalem berada pada era keemasan. Perdamaian dan toleransi antar umat beragama terjalin begitu erat. Seluruh pemeluk agama yang ada di Yerusalem benar-benar bisa merasakan kebebasan beribadah sesuai dengan kepercayaan umat Kristen, Yerusalem melambangkan simbol kesucian. Meskipun lahir di Bethlehem dan tumbuh di Nazareth, namun di Yerusalem yang magis itulah Yesus hidup, berkarya, wafat dan bangkit. Yerusalem menjadi tempat di mana gereja pertama kali lahir serta tempat awal mula berkembangnya komunitas Kristen di Yerusalem terdapat jalan yang diberi nama Via Dolorosa atau Jalan Salib. Menurut kepercayaan Kristen, jalan selebar dua setengah meter tersebut menjadi saksi Yesus disalib yang kemudian dianggap sebagai simbol pengorbanan dalam menebus dosa umat manusia. Via Dolorosa menjadi salah satu destinasi wajib bagi para peziarah kristen yang berkunjung ke bagi kaum Yahudi, Yerusalem merupakan satu-satunya kota suci yang dijanjikan kepada mereka. Berdasarkan kepercayaan Yudaisme, Yerusalem merupakan kota pilihan yang dianugerahkan tuhan Yahweh yang harus terus diperjuangkan. Dalam setiap doa harian, kaum Yudaisme kerap kali menyebut Trias Kuncahyo dalam buku yang berjudul Jerusalem, Kesucian, Konflik dan Pengadilan Akhir, di dua perayaan sakral orang Yahudi yaitu Passover Seder atau Paskah Yahudi dan Yom Kippur atau Hari Pertobatan, selalu diakhiri pernyataan tahun depan di Yerussalem.”Bagi kaum Yahudi, tanah yang dijanjikan bukan hanya suatu ungkapan heroik untuk mengklaim kepemilikikan Yerusalem, namun juga mempertahankan, memelihara, dan menjamin kesakralan Jerusalem sebagai kota yang kitab Mazmur atau yang bagi sebagian kalangan Muslim dikenal dengan kitab Zabur, terdapat penggalan pujian yang begitu agung terhadap Yerusalem. “Jika aku melupakan engkau oh Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku. Jika aku tidak mengingat engkau, biarlah lidahku melekat pada langit-langit mulutku, jika aku tidak memilih Yerusalem sebagai puncak sukacitaku, jangan biarkan aku bernyanyi lagi.”Masing-masing penganut agama samawi pasti mendambakan berdoa dengan kushyuk di kawasan suci Dome of The Rock, Masjid Al Aqsha, Gereja Makam Kristus, atau Tembok Ratapan yang sekarang disebut sebagai Tembok Barat. Yerusalem pantas disebut sebagai miniatur peradaban dunia. Di setiap sudut kota, ribuan umat beragama dengan khusyuk menyembah tuhan menurut kepercayaannya dari Sekedar Konflik Antar AgamaMeski persoalan spiritual menjadi daya tarik utama permasalahan Yerusalem, namun konflik yang terjadi tidak bisa direduksi melalui perspektif konflik keimanan semata. Lebih luas dari pada itu, konflik saling rebut Yerusalem yang sudah langgeng selama ribuan tahun sudah mencederai nilai-nilai kemanusiaan, tidak perduli apapun latar belakang saling rebut kota suci justru merusak nilai-nilai kesucian kota itu sendiri. Tindakan represif polisi Israel dan perilaku provokatif negara tersebut dalam mengkhianati berbagai resolusi PBB dan Dewan Kemanan PBB telah merenggut banyak nyawa serta kebebasan beribadah masyarakat Palestina. Begitu pula rudal-rudal dari militer Palestina yang merusak rumah-rumah masyarakat sipil Israel telah mengusik ketenangan masyarakat Israel itu data yang dilansir dari jumlah penduduk Israel yang menganut kepercayaan Yudaisme sebesar 78% dari total populasi. Yang tidak banyak orang tahu adalah Islam menjadi agama nomor dua terbesar di Israel, yaitu mencapai 18% dari total Israel juga terdapat beberapa politisi muslim yang menduduki posisi strategis di dalam lingkaran pemerintahan. Jumlah pemeluk agama Islam di Israel juga kian meningkat dalam beberapa tahun di Palestina, selain umat Islam yang menjadi mayoritas hingga 85% dari total populasi, juga terdapat pengikut Yudaisme yang tidak sedikit. Selain itu juga banyak terdapat pengikut Kristen yang 50% diantaranya merupakan anggota Gereja Ortodoks juga memiliki partai besar yang menganut ideologi komunis-nasionalis bernama Popular Front for the Liberation of Palestine PFLP. Selain PFLP, juga terdapat beberapa partai berhaluan Marxis-Leninis dengan jumlah anggota lebih sedikit yang terus tumbuh serta konsisten menyuarakan perlawanan terhadap invasi tengah pusaran konflik Israel dan Palestina, kerap kali muncul pertanyaan “Yerusalem milik siapa?” Pertanyaan seperti ini akan mendapatkan jawaban beragam, tergantung kepada siapa anda bertanya dan melalui sudut pandang apa orang tersebut mengklaim bahwa legalitas internasional mereka atas Yerusalem tertuang dalam Palestine Mandate yang dirumuskan pada tahun 1922 dimana saat itu Liga Bangsa-Bangsa mengakui hubungan historis antara bangsa Yahudi dengan Palestina sebagai sebuah negara berdaulat dan merekomendasikan Palestina sebagai national home bangsa Yasser Arafat yang merupakan pentolan Palestine Liberation Organization PLO dalam suatu kesempatan menyebutkan bahwa Jerusalem merupakan milik bangsa Palestina. “Yerusalem telah dan akan tetap menjadi ibu kota Palestina, semuanya milik Palestina.” Tindakan saling klaim secara terbuka ini menjadi bukti betapa Yerusalem mengakar begitu dalam bagi kedua belah pihak yang de facto, Israel saat ini merupakan pihak yang berdaulat atas Yerusalem. Kedaulatan de facto bisa dilihat dengan penguasaan secara administratif atas Yerusalem yang ditempuh meulalui agresi militer. Sementara secara de jure, kedua belah pihak yang bertikai baik Israel dan Palestina sama-sama mencari validitas dan pembuktian di mata masyarakat internasional. Namun proses pembuktian kepemilikan tersebut tidak lantas membawa Yerusalem ke arah tahun 1995, Perdana Menteri Israel saat itu Yitzhak Rabin menyatakan bahwa Israel berdaulat penuh atas Yerusalem. Bahkan ia menambahkan jika menyerahkan Yerusalem merupakan salah satu syarat terciptanya perdamaian, maka lebih baik tidak perlu ada tertarik dengan Resolusi PBB Nomor 181 II yang diterbitkan pada tahun 1947 dengan merekomendasikan Yerusalem sebagai kota internasional. Internasionalisasi Yerusalem berarti menjadikan Yerusalem sebagai corpus separatum wilayah atau entitas yang terpisah. Jika resolusi ini terwujud, Israel dan Palestina tidak lagi berhak untuk mengklaim Yerusalem sebagai milik mereka. Yerusalem akan dikelola oleh rezim internasional di bawah Dewan Perwalian hanya berselang beberapa bulan sejak diterbitkannya resolusi tersebut, Israel malah memproklamirkan diri sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat, sekaligus melanjutkan misinya dalam menganeksasi Jerusalem. Hingga saat ini, belum ada satupun resolusi ataupun perundingan yang mampu menghentikan sengketa tanah suci pergumulan dan konflik antar manusia yang tak kunjung usai, masyarakat global seolah melihat tidak ada lagi tersisa ketulusan di kota para nabi tersebut. Yang tersisa hanya perhitungan soal untung dan rugi serta menang dan manis dari perdamaian tidak akan tumbuh melalui akar semrawut kebencian. Perdamaian hanya akan terwujud jika tenggang rasa dan sikap kompromi muncul dari kedua belah pihak. Sikap pongah dan keras kepala hanya semakin menjadikan perdamaian di Yerusalem sebagai sebuah ilusi yang hanya akan terwujud jika seluruh pihak yang bertikai memiliki kehendak tulus dan baik. Seperti penggalan dalam lagu berjudul Gloria in Exelsis Deo “Et in terra pax hominibus bonae voluntatis” - dan damai di bumi bagi orang-orang yang memiliki kehendak baik!Benar kata mendiang Menachem Begin, "Perdamaian adalah keindahan hidup. Ia laksana sinar mentari. Perdamaian adalah senyum seorang anak, cinta seorang ibu, kebahagiaan seorang ayah, kebersamaan sebuah keluarga. Perdamaian adalah kemajuan peradaban manusia, kemenangan keadilan, kemenangan kebenaran. Perdamaian adalah semua itu, dan lebih dari segalanya." - Dalam surat al-Baqarah ayat 62, Allah berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang SHabi’in, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian serta beramal saleh, maka untuk mereka pahala mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran menimpa mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.” baca teks asliAda beberapa ayat yang mengecam, bahkan mengancam, orang-orang Yahudi yang durhaka. Tentu saja ancaman dapat menimbulkan rasa takut. Melalui ayat ini, ayat 62 dalam Surat al-Baqrah, Allah tidak hanya mengancam namun juga memberi jalan keluar sekaligus ketenangan kepada mereka yang bermaksud memperbaiki diri. Ini sejalan dengan kemurahan Allah yang selalu membuka pintu bagi hamba-hamba-Nya yang insaf. Kepada mereka disampaikan bahwa jalan bagi mereka juga umat lain untuk meraih rida Allah tidak lain kecuali iman kepada Allah dan hari Kemudahan serta beramal saleh. Karena itu, ditegaskannya bahwa Sesungguhnya orang-orang yang beriman, yakni yang mengaku beriman kepada Nabi Muhammad SAW., orang-orang Yahudi yang mengaku beriman kepada Nabi Musa AS., dan orang-orang Nasrani yang mengaku beriman kepada Isa AS., dan orang-orang Shabi’in, kaum musyrik atau penganut agama dan kepercayaan lain, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, sebagaimana dan sesuai dengan segala unsur keimanan yang diajarkan Allah melalui para nabi. Serta beramal saleh, yakni yang bermanfaat dan sesuai dengan nilai-nilai yang ditetapkan Allah. Maka untuk mereka pahala amal-amal saleh yang tercurah di dunia ini dan tersimpan hingga di akhirat nanti di sisi Tuhan Pemelihara dan Pembimbing mereka. Serta atas kemurahan-Nya, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka menyangkut sesuatu apa pun yang akan datang, dan tidak pula mereka bersedih hati menyangkut sesuatu yang telah terjadi. Kecaman dan siksaan yang diuraikan ayat-ayat al-Baqarah sebelumnya boleh diduga sementara orang tertuju kepada semua Bani Isra’il. Memang, banyak orang yang menduga bahwa kedurhakaan orang-orang Yahudi mencakup semua dari mereka, padahal tidak demikian. Untuk menampik dugaan keliru itu, ayat ini memulai informasinya dengan kata inna atau sesungguhnya. “Sementara sahabat-sahabat saya heran ketika saya sampaikan bahwa pada saat berada di Roma saya berkunjung ke kuburan Petrus untuk memperoleh berkatnya karena beliau adalah salah seorang hawariyyin sahabat Nabi Isa AS. yang setia,” demikian tulis Ibn Asyur ketika menafsirkan ayat 62 ini. Yang dimaksud dengan kata hadu adalah orang-orang Yahudi atau yang beragama Yahudi. Mereka dalam bahasa Arab disebut yahud. Sementara ulama berpendapat bahwa kata ini terambil dari bahasa Ibrani, yahudz. Dalam bahasa Arab, kata ini ditulis hanya dengan sedikit sekali perbedaannya yaitu meletakan "titik" di atas huruf dal. Perlu diingat, peletakan "titik" dan abris pada aksara Arab dikenal jauh setelah turunnya Al-Qur’an. Di sisi lain, bahasa Arab sering kali mengubah pengucapan satu kata asing yang diserapnya. Hal itu pun berlaku di sini. Penanaman tersebut, menurut Thahir Ibn Asyur, baru dikenal setelah kematian Nabi Sulaiman AS, diperkirakan sekitar 975 SM. Ada juga yang memahami kata tersebut berasal dari bahasa Arab, yang berarti "kembali" yakni bertaubat. Mereka dinamai demikian karena mereka bertaubat dari penyembahan anak mengamati bahwa Al-Qur’an tidak menggunakan kata yahud kecuali dalam konteks kecaman. Agaknya, itulah sebabnya, di sini baca ayat 62 tidak digunakan kata tersebut tetapi digunakan kata hadu. Thahir Ibn Asyur berpendapat lain. Menurutnya, kerajaan Bani Isra’il terbagi dua setelah kematian Nabi Sulaiman AS. Yang pertama adalah kerajaan putra Nabi Sulaiman bernama Rahbi’am dengan ibu kotanya Yerusalem. Kerajaan ini tidak diikuti kecuali oleh cucu Yahudza dan cucu Benyamin. Sedang kerajaan kedua dipimpin oleh Yurbi’am putra Banath, salah seorang anak buah Nabi Sulaiman yang gagah berani, dan diserahi beliau Nabi Sulaiman kekuasaan yang berpusat di Samirah. Ia digelar dengan raja Isra’il. Tetapi, masyarakatnya sangat bejat dan mengaburkan ajaran agama. Mereka menyembah berhala dan kekuasaan mereka diporakporandakan, bahkan mereka diperbudak, sehingga akhirnya kerajaan ini punah setelah 250 tahun. Sejak itu, tidak ada lagi kekuasaan dan kerajaan Bani Isra’il, kecuali kerajaan pertama di atas, dan ini bertahan sampai dihancurkan pada 120 SM oleh Adrian, salah seorang pengasa Imperium Romawi dan yang mengusir mereka sehingga terpencar ke mana-mana. Agaknya, tulis Ibnu Asyur lagi, mereka itulah yang dimaksud dengan hadu, dan karena itu ayat ini menggunakan kata tersebut, walau pada akhirnya kata ini mencakup semua yang beragama Yahudi. Kata an-nasahara sendiri terambil dari kata nashirah yaitu satu wilayah di Palestina, di mana Maryam, ibu Nabi Isa AS., dibesarkan. Dan, dari sana pula, dalam keadaan mengandung jabang bayi Isa AS., beliau pergi menuju ke Bait al-Maqdis. Tetapi sebelum tiba di tujuan, beliau sudah duluan melahirkan Isa AS., di Betlehem. Isa AS., kemudian digelari oleh Bani Isra’il dengan sebutan Yasu. Dari sinilah pengiut-pengikut beliau dinamai nashara yang merupakan bentuk jamak dari kata nashry atau nashiry. Kata ash-shabi’in ada yang berpendapat diambil dari kata shaba, yang berarti "muncul" dan "tampak", misalnya ketika melukiskan bintang yang muncul. Dari sinilah ada yang memahami istilah al-Qur’an tersebut sebagai atau dalam arti "penyembah bintang". Ada juga yang memahaminya diambil dari kata saba’, satu daerah di Yaman di mana pernah berkuasa Ratu Balqis dan penduduknya menyembah matahari dan bintang. Ada lagi yang berpendapat bahwa kata ini adalah kata lama dari Bahasa Arab yang digunakan oleh penduduk Mesopotamia di Irak. Persyaratan beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, seperti bunyi ayat di atas, bukan berarti hanya kedua rukun itu yang dituntut dari mereka. Tetapi keduanya adalah istilah yang biasa digunakan oleh al-Qur’an dan Sunnah untuk makna iman yang benar dan mencakup semua rukunnya. Memang akan sangat panjang bila semua objek keimanan disebut satu demi satu. Rasul SAW., dalam percakapan sehari-hari, sering hanya menyebut keimanan kepada Allah dan Hari Kemudian. Misalnya, sabda beliau “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, hendaklah dia menghormati tamunya.” Di kali lain, beliau bersabda “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, hendaklah mengucapkan kata-kata yang baik atau diam.....” Dan masih banyak yang serupa. Ada sementara orang yang perhatiannya tertuju kepada penciptaan toleransi antar-umat beragama yang berpendapat bahwa ayat ini dapat menjadi pijakan untuk menyatakan bahwa penganut agama-agama yang disebut oleh ayat ini, selama beriman kepada Tuhan dan Hari Kemudian, mereka semua akan memperoleh keselamatan dan tidak akan diiputi oleh rasa takut di akhirat kelak, tidak pula akan bersedih. Pendapat semacam ini nyaris menjadikan semua agama sama, padahal agama-agama itu pada hakikatnya berbeda-beda dalam akidah serta ibadat yang diajarkannya. Bagaimana mungkin Yahudi dan Nasrani dipersamakan, padahal keduanya saling mempersalahkan. Bagaimana mungkin yang ini dan itu dinyatakan tidak akan diliputi rasa takut atau sedih, sedang yang ini menurut itu dan atas nama Tuhan yang disembah adalah penghuni surga dan yang itu penghuni neraka? Yang ini tidak sedih dan takut, dan yang itu, bukan saja takut tetapi disiksa dengan aneka siksa. Bahwa surga dan neraka adalah hak prerogratif Allah memang harus diakui. Tetapi, hak tersebut tidak menjadikan semua penganut agama sama di hadapan-Nya. Bahwa hidup rukun dan damai antar-pemeluk agama adalah sesuatu yang mutlak dan merupakan tuntunan agama, tetapi cara untuk mencapai hal itu bukan dengan mengorbankan ajaran agama. Caranya adalah hidup damai dan menyerahkan kepada-Nya semata untuk memutuskan di Hari Kemudian kelak agama siapa yang direstui-Nya dan agama siapa pula yang keliru, kemudian menyerahkan pula kepada-Nya penentuan akhir, siapa yang dianugerahi kedamaian dan surga dan siapa pula yang akan takut dan bersedih. Firman-Nya falahum ajruhum ina Rabihimi untuk mereka pahala mereka di sisi Tuhan mereka diperhadapkan dengan firman-Nya pada ayat lalu menyangkut yang durhaka yakni wa ba'du bi ghadabi min Allah mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Umat yang ini mendapat murka dan umat yang itu mendapat rida yang tercermin antara lain dalam ganjaran. Karena itu, janji tersebut disertai dengan kata "di sisi Allah". Sedangkan firman-Nya wa laa khaufun’alaihim tidak ada kekhawatiran menimpa mereka diperhadapkan dengan firman-Nya wa dhuribat alaihim adz-dzillah dan ditimpakanlah atas mereka nista - nista karena ia menjadikan seseorang takut dan khawatir. Dalam hal umat ini takut dan yang itu tidak disentuh rasa takut. Sedang firman-Nya wa laa hum yahzanun tidak [pula] mereka bersedih hati, diperhadapkan dengan firman-Nya al-maskanah kehinaan, karena kehinaan hidup menjadikan seseorang mengharapkan sesuatu yang tidak dapat dicapai sehingga menyedihkan hati. Dengan demikian, umat yang ini sedih dan umat yang itu gembira. Demikian sekali lagi terlihat hubungan ayat ini dengan ayat al-Baqarah yang lalu dari sisi uraiannya yang bertolak belakang. Setelah penegasan yang memberi ketenangan terhadap semua pihak yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian secara benar sesuai dengan yang diajarkan oleh para nabi-Nya, kelompok ayat ini melanjutkan dengan mengingatkan orang-orang Yahudi tentang perjanjian mereka menyangkut kitab suci Taurat.=========* Naskah dinukil dari buku "Tafsir al-Misbah Jilid 1" yang diterbitkan oleh penerbit Lentera Hati. Pembaca bisa mendapatkan karya-karya Prof. Quraish Shihab melalui website penerbit. - Pendidikan Reporter M. Quraish ShihabPenulis M. Quraish ShihabEditor Zen RS Jakarta Kementerian Kesehatan Palestina mengumumkan kematian balita berusia tiga tahun yang ditembak dan terluka parah pada 1 Juni 2023 ketika pasukan Israel menembaki sebuah mobil di Kota Nabi Saleh dekat Ramallah. Mohammad Haitham Al-Tamimi meninggal pada 5 Juni. Ayah Tamimi juga terluka dalam serangan itu. Tentara Israel mengatakan penyelidikan awal menunjukkan bahwa dua pria bersenjata Palestina diduga melepaskan tembakan ke permukiman terdekat, dan pasukan Israel merespons tembakan tersebut. Mengakui tidak sengaja menembak balita tersebut, tentara Israel menyatakan penyesalannya setelah menyakiti non kombatan dan berupaya untuk mencegah insiden semacam itu. Namun, ayah anak itu membantah narasi Israel dan mengatakan tidak ada baku tembak di daerah itu. Sang ayah justru menuduh pasukan Israel menembaki mobilnya secara langsung. "Saya bersama anak saya di mobil saya, kami ingin mengunjungi keluarga," kata Haitham al-Tamimi, 40, kepada AFP pada Kamis malam setelah kejadian itu. "Tiba-tiba mereka menembak saya dan anak saya, saya pikir itu berasal dari menara militer," tambahnya dari ranjang rumah sakit. Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB mengutuk pembunuhan tersebut. "Saya mengutuk dan sangat sedih atas kematian seorang anak laki-laki Palestina berusia tiga tahun, yang terluka parah oleh tembakan pasukan keamanan Israel di Al-Nabi Saleh," kata Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah Tor Wennesland di Twitter. Dia menjelaskan bahwa warga sipil, khususnya anak-anak, terus menanggung beban konflik dan mendesak otoritas Israel untuk menindak pihak yang bertanggungjawab. AFP PHOTO/Ahmad Gharabli

sabda nabi tentang palestina